Sabtu, 20 November 2010

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) PASCA PEMASANGAN KATETER


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan suatu keadaan patologis yang sudah sangat lama dikenal dan dapat dijumpai diberbagai pelayanan kesehatan primer sampai subspesialitik. Infeksi ini juga merupakan penyakit infeksi bakterial tersering yang didapat pada praktek umum dan bertanggung jawab terhadap morbiditas khususnya pada wanita dalam kelompok usia seksual aktif. Dikatakan juga bahwa infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyebab utama sepsis gram negatif pada penderita yang dirawat di Rumah Sakit (http://www.wordpres.com).
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang sering dijumpai diseluruh dunia. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi tersering kedua setelah infeksi saluran nafas atas yang terjadi pada populasi dengan rata – rata 9,3%  pada wanita diatas 65 tahun dan 2,5 – 11% pada pria diatas 65 tahun. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi nosokomial tersering yang mencapai kira – kira 40 – 60% (http://www.blogspot.com).
Infeksi saluran kemih pasca kateterisasi ini terjadi karena kuman dapat masuk melalui lumen kateter, rongga yang terjadi antara dinding kateter dengan mukosa uretra serta akibat bentuk muara uretra yang sulit dicapai antiseptik, sehingga kuman yang berada disini akan terdorong kedalam kandung kemih yang pada dasarnya adalah steril. Walaupun sedemikian sempurnanya cara pemasangan kateter, infeksi masih saja terjadi sebesar 2% pada kateterisasi tunggal, 10% pada kateterisasi berulang dan 95 - 100% pada kateterisasi menetap (http://www.wordpres.com).
Infeksi saluran kemih pasca pemasangan kateter merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai dalam bidang nefrologi dan urologi. Kass mengemukakan 15 – 20% pasti mengalami peristiwa ini didalam riwayat hidupnya. Pengeluaran air seni melalui kateter juga merupakan tindakan yang sering diperlukan untuk menolong penderita. Tata cara yang aseptis merupakan syarat mutlak untuk tindakan ini agar infeksi dapat dicegah. Akan tetapi tata cara yang aseptis ataupun chemopropylaxis tidak dapat sama sekali menghilangkan kemungkinan terjadinya infeksi (http://www.librari.usu.ac.id).
Infeksi saluran kemih setelah pemasangan kateter pada penderita BPH telah banyak diketahui dan menurut literatur betapapun sempurnanya pemasangan kateter, infeksi masih saja terjadi. Kateterisasi tunggal yang dilakukan dengan tepat pada retensio urin hanya akan menyebabkan sekitar 2% insiden infeksi traktus urinarius pada penderita bedah terencana. Pada penderita debilitasi, insiden ini dapat meningkat 10 – 20%. Infeksi traktus urinarius terlazim pada penderita yang memerlukan kateter urin dibiarkan terpasang. Bila dipakai drainase terbuka, maka sebenarnya semua penderita akan terinfeksi dalam waktu 2 hari. Bila menggunakan drainase tertutup, maka sekitar 5 - 10% perhari akan terinfeksi (http://www.blogsport.com)


Dari laporan yang dilakukan di Amerika dan Eropa tahun 2003. Infeksi saluran kemih (ISK) menempati urutan teratas sebagai penyebab infeksi nosokomial dan hampir 95% diakibatkan oleh pemakaian kateter. Komplikasi infeksi saluran kemih (ISK) yang paling berat adalah urosepsis dengan angka kematian yang masih tinggi antara 25 – 60% , dan bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal akut. Dari data rekam medik di RSUD Dr Sutomo Surabaya penyebab gagal ginjal akut (GGA) melalui infeksi saluran kemih (ISK) sebesar 16,85%. Dari penelitian Pranawa tahun 2005 mendapat infeksi nosokomial dari 80 penderita yang dilakukan pemasangan kateter sebanyak 27,50%, lebih rendah yang didapatkan Hernomo Kusumobroto ditahun 1994 sebesar 57,5% (http://www.blogspot.com).
 Dari pengamatan di klinik Urologi serta Instalasi Gawat Darurat RSUP. Adam Malik dan RSUD. Pirngadi Medan, penderita yang terbanyak menggunakan kateter menetap adalah penderita yang datang dengan keluhan retensi urin akibat prostat hiperplasi. Kateterisasi merupakan pertolongan bagi penderita saat itu, tetapi akan menjadi penyulit bila pemakaian lama (http://www.library.usu.ac.id).
Pasca kateterisasi di Medan / Sumatera Utara adalah tinggi. Hasil pemeriksaan serial pembiakan urin pada kateterisasi menetap, yang menunjukkan telah berkembangnya kuman pada 24 jam sesudah pemasangan kateter, walaupun pengaliran urin adalah sistem terbuka, menunjukkan pula pertumbuhan kuman yang berbeda. Pada sistem pengaliran yang tertutup resiko perkembangan bakteriuria adalah 5 – 10% setiap hari akan tetapi pada yang terbuka bakteriuria telah timbul 90% dalam 48 jam dan dalam 4 hari 95% (http://www.library.usu.ac.id).
Sekitar 50% pasien di Rumah Sakit dengan kateter permanen mengalami infeksi saluran kemih (ISK) dalam satu minggu setelah kateter dipasang. Sembilan puluh persen infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi disebabkan Eschericia coli. Empat puluh persen dari infeksi nosokomial adalah infeksi saluran kemih (ISK). Infeksi saluran kemih (ISK) bawah berkaitan dengan kandung kemih (sistitis), uretra (uretritis), dan prostatitis (Baradero. M, dkk, 2009, hal 24).
Tingginya infeksi setelah pemasangan kateter juga sebagai akibat sulitnya pengontrolan dan perawatan serta penggantian kateter pada penderita yang memerlukan pemasangan kateter yang lama. Perawatan kateter secara tertutup dapat mengurangi infeksi sampai lebih dari 50%, hal ini banyak membantu menurunkan angka infeksi saluran kemih (ISK) setelah pemasangan kateter, sambungan antara kateter dan tabung pengumpul, serta antara tabung pengumpul dengan kantung pengumpul (http://www.wordpres.com)
Berdasarkan survei awal yang dilakukan penulis di Rumah Sakit Haji Medan didapatkan jumlah perawat di ruang Al – Ikhsan sebanyak 15 orang, An – Nisa sebanyak 14 orang, Ar – Rijal sebanyak 11 orang, Hijir Ismail Dewasa sebanyak 14 orang, dan ICU sebanyak 25 orang. Jadi, jumlah keseluruhannya sebanyak 79 orang, dimana yang diwawancarai 11 orang perawat, 9 orang yang kurang mengetahui penyebab, tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK), sedangkan 2 orang kurang mengetahui pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK). Maka penulis merasa tertarik untuk meneliti pengetahuan perawat tersebut.
Dari uraian diatas, penulis memandang perlu untuk melakukan suatu penelitian bagaimana pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut : bagaimana pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan tahun 2010.

1.3   Tujuan Penelitian
1.3.1  Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan.
1.3.2  Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang penyebab infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
2.      Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
3.      Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang Pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.




1.4   Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermamfaat bagi :
a.       Tempat Penelitian
Sebagai informasi tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan.
b.      Peneliti
Berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman dalam pencapaian ilmu riset keperawatan.
c.       Responden
Sebagai motivasi terhadap perawat tentang penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter supaya tidak terjadi infeksi.
d.      Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai data awal dan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya agar lebih baik.







BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengetahuan
2.1.1 Defenisi
            Pengetahuan (knowledge) adalah hal – hal yang kita ketahui tentang kebenaran yang ada disekitar kita tanpa harus menguji, kebenarannya, didapat melalui pengamatan yang lebih mendalam (Wasis, 2008, hal 1).
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil ’’tahu’’ dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoadmodjo. S, 2003, hal 3).
2.1.2 Proses Pembentukan Pengetahuan
            Peneliti Rogers, 1974 mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni:
  1. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti                          mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.
  2. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut.
  3. Evaluation (evaluasi), menimbang - nimbang terhadap baik dan tidaknya                  stimulus tersebut bagi dirinya.
  4. Trial (mencoba), dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu dengan apa  yang dikehendaki oleh stimulus.
  5. Adoption (adopsi), dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan               pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus (Mubarak. W. I, 2009, hal 257).
2.1.3 Cara Memperoleh Pengetahuan
Dari berbagai cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
1. Cara Tradisional Untuk Memperoleh Pengetahuan
Cara kuno atau tradisional dipakai orang untuk memperoleh kebenaran           pengetahuan antara lain :
a)      Cara coba - salah (Trial and Error) adalah cara yang dilakukan dengan          menggunakan kemungkinan dalam mencegah masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain.
b)      Cara kekuasaan (Otoriter) yaitu sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintah dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah dan sebagainya.
c)      Berdasarkan pengalaman pribadi yang dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hasil ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.

d)      Melalui jalan pikiran sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusiapun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalaran dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya ( Notoadmodjo. S, 2002, hal 11).
2. Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan
 Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sintesis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau popular disebut metodologi penelitian (Notoadmodjo, 2002, hal 18).
2.1.4 Tingkat Pengetahuan
a)      Tahu (Know) yaitu dapat mengingat  kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b)      Memahami (Comprehensif) yaitu kemampuan untuk menjelaskan dan       menginterpresikan dengan benar tentang objek yang diketahui.
c)      Penerapan atau aplikasi (Aplication) yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan hukum - hukum rumus, metode dalam situasi nyata.
d)      Analisa (Analysis) artinya adalah kemampuan untuk menguraikan objek ke dalam bagian - bagian lebih kecil, tetapi masih didalam suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain.
e)      Sintesis (Syntesis) yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian - bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi - formulasi yang ada.
f)        Evaluasi (evaluation) yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek (Notoadmodjo. S, 2003, hal 20).
2.1.5 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
1)      Pendidikan, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai  - nilai yang baru diperlukan.
2)      Pekerjaan, pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan berulang dan banyak tantangan.
3)      Umur, umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun (Mubarok. W. I, 2009, hal 258).
4)      Sumber Informasi        
Informasi adalah data yang diperolah kedalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi sipenerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan mendatang (Notoadmodjo, 2002, hal 12).
5)      Pengalaman Kerja
Semakin banyak pengalaman kerja seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya (Notoadmodjo, 2003, hal 21).





2.2  Perawat
2.2.1 Defenisi
            Menurut Internasional Council of Nursing (1965), perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan, dan bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta pelayanan terhadap pasien.
            Menurut Undang – Undang RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan (Ali. Z, 2001, hal 14).

2.3  Infeksi Saluran Kemih (ISK)
2.3.1 Defenisi
            Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urin dikandung kemih, yang umumnya steril. Istilah ini dipakai secara bergantian dengan istilah infeksi urin. Termasuk pula berbagai infeksi disaluran kemih yang tidak hanya mengenai kandung kemih (prostatis, uretritis) (Mansjoer. A, dkk, 2001, hal 523).
            Infeksi saluran kemih (ISK) adalah berkembang biaknya  mikroorganisme didalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Tempat yang sering mengalami infeksi saluran kemih (ISK) adalah kandung kemih (sistitis), uretra (uretritis), dan ginjal (pielonefritis) (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 108).
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Tessy. A, dkk, 2001, hal 369).
2.3.2 Etiologi
            Biasanya, infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan organisme seperti Escherichia coli, Klebsiella, Proteus, atau Pseudomonas. Organisme ini berasal dari usus, kemudian masuk kedalam uretra dan naik kevesikaurinaria (kandung kemih). Dapat juga terjadi refluks urine dari kandung kemih ke ureter (refluks vesikouretera) dan membawa bakteri dari kandung kemih ke pelvis ginjal melalui ureter. Stasis urinarius yang terjadi akibat obstruksi (batu, tumor, darah beku, dst) dapat menjadi tempat untuk pertumbuhan bakteri. Stasis urinarius dapat membuat urine menjadi alkalin, yang juga membantu pertumbuhan bakteri (Baradero. M, dkk, 2009, hal 24)
            Penyebab terbanyak adalah Gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari Gram- negatif ternyata Escherichia coli menduduki tempat teratas, yang kemudian diikuti oleh :
- Proteus
- Klebsiela
- Enterobacter
- Pseudomonas
            Jenis kokus Gram-positif lebih jarang sebagai penyebab infeksi saluran kemih (ISK) sedangkan enterokokus dan Staphylococus aureus sering ditemukan ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih, lelaki usia lanjut dengan hipertrofi prostat atau pada pasien yang menggunakan kateter. Bila ditemukan S. Aureus dalam urin harus dicurigai adanya infeksi hematogen melalui ginjal. Demikian juga dengan Pseudomonas aeroginosa dapat menginfeksi saluran kemih melalui jalur hematogen dan pada kira-kira 25% pasien demam tifoid dapat disolasi Salmonella pada urin. Bakteri lain yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) melalui jalan hematogen ialah brusela, nokardia, aktinomises, dan Mycobacterium tuberculosea. Oleh karena bagian distal uretra dan vagina sering dihuni oleh bakteri anaerob, untuk membuktikan bahwa bakteri anaerob yang ditemukan dalam urine merupakan penyebab infeksi saluran kemih (ISK) bersangkutan, contoh urin yang dipakai sebaiknya diambil dari aspirasi suprapubik. Virus sering juga ditemukan pada urin tanpa gejala infeksi saluran kemih (ISK) akut. Adenovirus tipe 11 dan 12 diduga sebagai penyebab sistitis hemoragik. Sistitis hemoragik dapat juga disebabkan oleh Schistosoma hematobium yang termasuk golongan cacing pipih. Kandida merupakan jamur yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) terutama pada pasien dengan kateter, pasien DM atau yang mendapat pengobatan dengan antibiotik spektrum luas. Kandida yang paling sering menjadi antibiotik ialah Candida albikans dan Candida tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen (Tessy. A, dkk, 2001, hal 370)
            Infeksi saluran kemih (ISK) timbul terutama apabila daya tahan tubuh menurun. Dua faktor utama yang dapat mencegah infeksi saluran kemih (ISK) adalah integritas jaringan / mukosa dan suplai darah. Trauma atau robeknya mukosa yang melapisi saluran kemih dapat membuat bakteri menyerang jaringan tersebut dan dapat menyebabkan infeksi. Trauma ini dapat disebabkan erosi jaringan dari ujung kateter, iritasi karena batu. Suplai darah pada jaringan kandung kemih dapat terganggu tekanan dalam dinding kandung kemih sangat kuat,  seperti adanya overdistensi kandung kemih karena obstruksi akibat hipertrofi prostat, struktur uretra, dan adanya melignansi (Baradero. M, dkk, 2009, hal 24)
            Faktor resiko yang umum pada infeksi saluran kemih (ISK) adalah :
1)      Ketidakmampuan atau kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna.
2)      Penurunan daya tahan tubuh.
3)      Peralatan yang dipasang pada saluran perkemih seperti kateter dan prosedur sistoskopi (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 108).
2.3.3. Tanda dan Gejala
            Tanda dan gejala yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih (ISK) bervariasi. Separuh dari klien yang di temukan adanya bakteri dalam urin ( bakteri uria ) tidak menunjukkan adanya gejala (asimtomatik).
            Gejala yang sering di temukan pada infeksi saluran kemih (ISK)  adalah :
1)      Nyeri dan rasa panas ketika berkemih (disuria), polikisuria dan terdesak ingin berkemih (urgency).
2)      Stranguria (sulit berkemih dan disertai kejang otot pinggang).
3)      Tenesmus (rasa nyeri dengan ke inginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong).
4)      Nokturia (kecenderungan sering buang air kecil pada malam hari)
5)      Prostatimus (kesulitan memulai berkemih) (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 109).

2.3.4. Komplikasi
a.       Bakteremia dan syok septik.
b.      Abses ginjal, perineprik, dan metastasis.
c.       Kerusakan ginjal dan gagal ginjal akut / kronik.
d.      Pielonefritis kronis dan xantogranulomatosa (O’callogan. C. A, 2009, hal 103).
2.3.5. Pemeriksaan laboraturium
1.      Urinalisis
a.       Leukosuria
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap   dugaan adalah ISK. Leukosuria dinyatakan positif bila mana terdapat lebih dari 5 leukosit / lapang pandang besar ( LPB ) sediment air kemih.
b.      Hematuria
Hematuria dipakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK yaitu bila mana dijumpai 5 - 10 eritrosit / LPB sediment air kemih. Hematuria dapat pula disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa rusakan glomerulus ataupun oleh sebab lain misalnya urolitiasis, tumor ginjal atau nekrosis papilaris.




2.      Bakteriologis
a.       Mikroskopis
Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan air kemih segar tanpa diputar atau pewarna gram. Bakteri dinyatakan positif bermakna bila mana dijumpai satu bakteri lapangan pandang minyak emersi.
b.      Biakan bakteri
      Pemeriksaan biakan bakteri contoh air kemih dimaksudkan untuk                    memastikan diagnosis infeksi saluran kemih (ISK) yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan kriteria Cattel.
3.      Tes kimiawi
      Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling sering dipakai ialah Tes reduksi griess nitrat. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali enterokoki,mereduksi nitrat bila dijumpai lebih dari 100,000 – 1,000,000 bakteri.
  1. Tes plat – celup  (Dip-slide)
Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempeng plastik bertangkai dimana pada kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan padat khusus. Lempeng tersebut dicelupkan kedalam air kemih pasien atau dengan digenangi air kemih. Setelah itu lempeng dimasukkan kembali kedalam tabung plastik tempat penyipanan semula, lalu dilakukan pengeraman semalam pada suhu 37 0 C.

  1. Pemeriksaan radiologis dan pemesiksaan penunjang lainnya
Pemeriksaan radiologis pada infeksi saluran kemih (ISK) dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi infeksi saluran kemih (ISK). Pemeriksaan ini dapat berupa pielografi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya, misalnya ultrasonografi dan CT – scanning (Tessy. A, dkk, 2001, hal 372).
2.3.7 Penatalaksanaan
            Pengobatan infeksi saluran kemih (ISK) bertujuan untuk membebaskan saluran kemih dari bakteri dan mencegah atau mengendalikan infeksi berulang. Ada beberapa metode pengobatan infeksi saluran kemih (ISK) yang lazim dipakai, yaitu :
1)    Pengobatan dosis tunggal, yaitu obat diberikan satu kali
2)    Pengobatan jangka pendek, yaitu 1 – 2 minggu
3)    Pengobatan jangka panjang, yaitu 3 – 4 minggu
4)    Pengobatan profilaktik, yaitu 1 kali sehari dalam waktu 3 – 6 bulan .
Dalam pendekatan klinis pengobatan infeksi saluran kemih (ISK), pemilihan antibiotik adalah penting. Antibiotik yang sering digunakan adalah ampisilin, trimetoprin – sulfa metoksasol, kloramfenikol, sefotaksim, amikasin (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 25).





Cara Mencegah Infeksi Saluran Kemih :
  1. Beberapa hal paling penting untuk mencegah infeksi saluran kencing, infeksi kandung kemih, dan infeksi ginjal adalah menjaga kebersihan diri, bila setelah buang air besar atau air kecil bersihkan dengan cara membersihkan dari depan kebelakang, dan mencuci kulit di sekitar dan antara rektum dan vagina setiap hari. Mencuci sebelum dan sesudah berhubungan seksual juga dapat menurunkan resiko seorang wanita dari infeksi saluran kemih (ISK).
  2. Minum banyak cairan (air) setiap hari akan membantu pengeluaran bakteri melalui sistem urine.
  3. Mengosongkan kandung kemih segera setelah terjadi dorongan untuk buang air kecil juga bisa membantu mengurangi risiko infeksi kandung kemih (ISK).
  4. Buang air kecil sebelum dan setelah melakukan hubungan seks dapat flush setiap bakteri yang mungkin masuk ke uretra selama hubungan seksual.
  5. Vitamin C membuat urin asam dan membantu mengurangi jumlah bakteri berbahaya dalam sistem saluran kemih.
  6. Hindari pemakaian celana dalam yang dapat membuat keadaan lembab dan berpotensi berkembang biaknya bakteri.
  7. Kateterisasi perkemihan dilakukan hanya apabila sangat diperlukan dan dilepas secepat mungkin. Teknik aseptik harus diperhatikan dengan ketat (http://www.blogspot.com).

2.4  Pemasangan Kateter
2.4.1 Defenisi
            Pemasangan kateter adalah tindakan memasukkan slang karet atau plastik melalui uretra dan masuk kedalam kandung kemih. Terdapat dua jenis kateterisasi perkemiihan, yaitu menetap dan Intermiten (Hidayat. A. A. A, dan Uliyah. M, 2005, hal 103).
            Pemasangan kateter (kateterisasi) kandung kemih pada pria adalah dimasukkannya kateter melalui uretra kedalam kandung kemih pada pria untuk mengeluarkan urine. Pemasangan kateter kandung kemih (kateterisasi) mencakup memasukan selang karet atau plastik melalui uretra kedalam kandung kemih. Pemasangan kateter kandung kemih pada pria mungkin sulit bila klenjar prostat membesar. Perawat tidak seharusnya mendorong paksa kateter karena dapat menyebabkan cedera jaringan (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 78).
            Pemasangan kateter (kateterisasi) kandung kemih pada wanita adalah dimasukkannya kateter melalui uretra kedalam kandung kemih pada wanita untuk mengeluarkan urine. Pada wanita letak uretra berdekatan dengan anus, sehingga resiko terhadap infeksi selalu besar dan pembersihan perineum secara menyeluruh sebelum pemasangan kateter adalah penting. Perawatan perineal harus sering dilakukan setalah pemasangan (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 78).
2.4.2 Tujuan
1)      Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih
2)      Mendapatkan urine steril untuk spesimen
3)      Pengkajian residu urine
4)      Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla spinalis, gangguan neuromuskular, atau inkompoten kandung kemih, serta pasca operasi besar
5)      Mengatasi obstruksi aliran urine
6)      Mengatasi retensi urine (Hidayat. A. A. A, dan Uliyah. M, 2005, hal 104).
2.4.3 Indikasi
a)      Klien yang tidak dapat menahan atau mengosongkan kanduh kemih
b)      Klien yang dilakukan pembedahan
c)      Klien yang mempunyai masalah dengan saluran kemih (Suharyanto. T, dan       Madjid. A, 2009, hal 78).
2.4.4 Kontra Indikasi
a)      Klien dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK)
b)      Klien dengan striktura uretra (Suharyanto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 78)
2.4.5 Persiapan Alat
1)      Bak instrumen
2)      Spuit 10 cc
3)      Bengkok
4)      Sarung tangan steril
5)      Aquades
6)       Plester
7)      Gunting plester
8)      Perlak
9)      Kateter sesuai dengan ukuran
10)  Kapas sublimate
11)  Kassa
12)  Urine bag
13)  Jelly atau vaselin
14)  Waskom larutan chlorine 0,5% (Kusmiyati. Y, 2007, hal 195).
2.4.6 Prosedur Kerja
a.       Perawat cuci tangan
b.      Ucapkan salam
c.       Jelaskan tujuan dan prosedur kerja
d.      Tutup tirai dan pintu kamar pasien
e.       Dekatkan peralatan ke sisi tempat tidur
f.        Atur posisi klien senyaman mungkin
g.       Pasang perlak dan pengalasnya dibawah bokong
h.       Buka pembungkus bagian luar kateter, kemudian letakkan dalam bak steril
i.         Gunakan sarung tangan steril
j.        Tes balon udara
k.      Buka daerah meatus dengan tangan kiri, dengan cara : pegang daerah dibawah  glands penis dengan ibu jari dan telunjuk, dan preputium ditarik ke bawah
l.               Bersihkan daerah meatus dengan kassa iodine povidon. Bersihkan dengan arah melingkar dari meatus ke arah luar minimal 3 kali dengan menggunakan pinset steril
m.           Masukkan jelly ke dalam uretra, dengan menggunakan spuit (yang sudah dilepas jarumnya) 3 cc yang sudah terisi jelly
n.             Anjurkan pasien untuk napas dalam selama pemasangan kateter
o.            Masukkan kateter sepanjang 17,5 – 22,5 cm (dewasa), 5 – 7,5 cm (anak – anak) atau sampai urine keluar. Hentikan pemasangan kateter bila waktu memasukkan kateter terasa adanya tahanan
p.            Masukkan lagi kateter sepanjang 2 cm sambil sidikit diputar
q.            Isi balon kateter dengan aquades atau NaCl sebanyak 20 – 30 cc
r.              Tarik kateter perlahan – lahan sampai ada tahanan ballon
s.             Sambungkan kateter dengan urine bag
t.              Fiksasi kateter menggunakan plester pada paha pasien
u.             Gantung urine bag dengan posisi lebih rendah dari pada kandung kemih
v.             Bengkok, perlak dan pengalasnya dirapikan
w.           Rapikan pasien dan alat – alat pada tempatnya
x.             Evaluasi respon pasien
y.             Buka sarung tangan
z.             Cuci tangan (Suharyonto. T, dan Madjid. A, 2009, hal 79).









2.5  Kerangka Kerja
               Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibuat kerangka kerja penelitian mengenai pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan sebagai berikut :

      Input                                         Proses                                                    Output
Pengetahuan Tentang :
  1. Penyebab
  2. Tanda dan gejala
  3. Pencegahan / penanganan pasca pemasangan kateter
 
Baik
Sedang
Buruk
 
Perawat
 
 






               Dari kerangka kerja di atas dapat dilihat bahwa objek yang diteliti adalah pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter dengan kriteria hasil baik, sedang, buruk.







BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1  Desain Penelitian
            Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah Sakit Haji Medan.

3.2  Lokasi dan Waktu Penelitian  
3.2.1.   Lokasi Penelitian
            Lokasi penelitian ini di laksanakan di Rumah Sakit Haji Medan, dengan pertimbangan adanya masalah yaitu perawat kurang mengetahui tentang tanda dan gejala serta penyebab terjadinya infeksi saluran kemih (ISK), memiliki jumlah populasi dan sampel yang cukup untuk dijadikan responden, referensi tentang infeksi saluran kemih (ISK) cukup, dan belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya, serta lokasi tersebut strategis sehingga penulis lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungan Rumah Sakit Haji Medan. Perawat  Rumah Sakit Haji Medan memenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan, tempatnya strategis, dan mudah untuk memperoleh data sehingga peneliti mudah bersosialisasi dengan lingkungan Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.2.      Waktu Penelitian  
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19 Juni sampai dengan 22 Juni 2010.

3.3  Populasi dan Sampel
3.3.1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek yang akan diteliti (Wasis, 2008, hal 44). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang ada diruangan Al - Ikhsan, An - Nisa, Ar - Rijal, Hijir Ismail Dewasa, dan ICU di Rumah Sakit Haji Medan dengan jumlah 79 orang perawat.
3.3.2        Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi, yang diambil dengan menggunakan cara – cara tertentu. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan Porposive Sampling. Porposive Sampling adalah cara pengambilan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Sampel dalam penelitian ini adalah 25 orang perawat yang bekerja < 5 tahun kebawah di ruangan Al - Ikhsan, An - Nisa, Ar - Rijal, Hijir Ismail Dewasa, dan ICU di Rumah Sakit Haji Medan, yang akan diambil sebagai responden.

3.4      Defenisi Operasional
3.4.1        Perawat adalah seseorang yang telah memberikan pelayanan dan bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan pasien dalam pelayanan kesehatan di Rumah sakit tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.

3.4.2        Pengetahuan perawat adalah kemampuan yang dimiliki seorang perawat dalam menjawab pertanyaan dengan benar tentang penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
3.4.3        Penyebab adalah awal terjadinya suatu proses penyakit tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
3.4.4        Tanda dan gejala adalah suatu hal yang menunjukkan untuk diketahui tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
3.4.5        Pencegahan / penanganan adalah hal yang dilakukan untuk mengatasi sesuatu yang terjadi tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.
3.4.6        Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan berkembang biaknya kuman didalam saluran kemih pasca pemasangan kateter.

3.5  Etika Penelitian
            Dalam melakukan penelitian ini, peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan ketempat penelitian yaitu kepada Rumah Sakit haji Medan untuk melakukan studi pendahuluan dan mendapatkan data untuk menyusun karya tulis ilmiah. Kemudian dengan adanya surat pengantar dari instansi pendidikan, peneliti kembali ke Rumah Sakit Haji Medan untuk membagikan kuesioner kepada responden yang akan diteliti dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi :


1.      Lembar Pesetujuan (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi sebelum dan sesudah meneliti. Jika bersedia dijadikan responden, maka mereka diminta untuk menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika mereka menolak untuk dijadikan responden, maka peneliti tidak memaksa dan akan tetap menghormati hak-haknya.
2.      Tanpa Nama (Anonymity)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan  namanya pada lembar pengumpulan data, tetapi cukup dengan memberi nomor kode pada masing - masing lembar tersebut
3.      Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden akan dijamin oleh peneliti, hanya sekelompok data tertentu yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian (Hidayat. A. A. A, 2007, hal 93).

3.6  Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dengan mengacu kepada kerangka kerja peneliti dan tinjauan pustaka, terdiri dari pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter.

3.7  Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan berupa jawaban dari setiap pertanyaan  kuesioner akan diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Editing
Dilakukan pengecekan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan       dan kekeliruan dalam pengumpulan data, diperbaiki dan dilakukan pendataan       ulang terhadap responden.
2)      Coding
Data yang telah di edit dirubah kedalam bentuk angka (kode) misalnya nama            responden dirubah menjadi nomor responden 01, 02,…………10.
3)      Tabulating
Untuk mempermudah pengolahan data serta pengambilan kesimpulan data       selanjutnya dimasukkan kedalam bentuk tabel.
4)      Skoring
Memberi skor tehadap jawaban - jawaban responden dan  kuesioner tentang    penyebab, tanda dan gejala, serta pencegahan / penanganan infeksi saluran    kemih (ISK) pasca pemasangan kateter. Untuk mengetahui pengetahuan    perawat    tentang infeksi saluran kemih (ISK) peneliti menentukan kategori    baik, sedang,    kurang sebagai tolak ukur yang akan disajikan pemantauan    pengukuran adalah :
1.      Skor jawaban yang salah dikali 1 dengan jumlah soal sebanyak 30 soal, jadi jumlah skor minimum adalah 1 x 30 = 30
2.      Skor jawaban yang benar dikali 2 dengan jumlah soal sebanyak 30 soal, jadi jumlah skor maksimum adalah 2 x 30 = 60
      Rentang   = Data besar – Data Kecil
      Maka : R =  Xmak - Xmin
                  R = Xmak – Xmin
                     = 60 – 30
                     = 30
                        P = Panjang kelas interval
                         Rentang Kategori
                 P  =
                         Banyak Kategori
     
        30
                 P  =    
                            3

                           =  10

  1. Pengetahuan baik apabila mendapat skor 51 – 60
  2. Pengetahuan sedang apabila mendapatkan  skor 41 – 50
  3. Pengetahuan buruk apabila mendapatkan  skor 30 – 40.
(Sudjana, 2005, hal 47).
Maka berdasarkan penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter tiap – tiap tujuan khusus mempunyai 10 soal, meliputi :
a.       Untuk jawaban yang salah adalah 1, dengan jumlah soal 10. Jadi, jumlah nilai minimum adalah 1 x 10 = 10
b.      Untuk jawaban yang benar adalah 2, dengan jumlah soal 10. Jadi, jumlah nilai maksimum adalah 2 x 10 = 20
R = Xmak – Xmin
                      = 20 – 10
                      = 10

                                 Rentang Kategori
                  P  =   
                           Banyak Kategori

          10
                  P  =    
                              3

                             =  3,3
                                  
                             = 3

      Maka dari hasil penilaian memiliki kriteria penilaian sebagai berikut :

a.       Pengetahuan baik apabila mendapat skor 18 – 21
b.      Pengetahuan sedang apabila mendapatkan  skor 14 – 17
c.       Pengetahuan buruk apabila mendapatkan  skor 10 – 13.                                                                                                                                                      
      5)  Analisis
          Data primer yang telah terkumpul disajikan dalam bentuk tabel distribusi,
          frekuensi dan persentase.

3.8  Penyajian Data
      Hasil pengolahan data akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
            Rumah Sakit Haji Medan adalah salah satu Rumah Sakit Swasta tipe B di Provinsi Sumatera Utara yang terletak dijalan pancing Medan Estate, Rumah Sakit Haji juga tempat praktek dan penelitian bagi Mahasiswa – Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rumah Sakit Haji Medan.

4.1.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden di Rumah Sakit Haji Medan          Berdasarkan Umur, Lama kerja, dan Sumber Informasi.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Data Demografi

No
Data Demografi
Data
Frekuensi
Persentase
1
Umur
20 - 25 Tahun
4 Orang
16%
26 - 30 Tahun
21 Orang
84%
Total
25 Orang
100%
2
Lama Kerja
2 Tahun
4 Orang
16%
3 Tahun
6 Orang
24%
4 Tahun
7 Orang
28%
5 Tahun
8 Orang
32%
Total
25 Orang
100%
3
Sumber Informasi
Breefing
15 Orang
60%
Pelatihan
4 Orang
16%
Seminar
6 Orang
24%
Total
25 Orang
100%




            Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas umur responden 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%), lama kerja responden mayoritas 5 tahun yaitu sebanyak 8 orang (32%), dan responden mayoritas memiliki sumber informasi dari breefing yaitu sebanyak 15 orang (60%).

4.1.2 Distribusi Hasil Penelitian



Tabel 2
Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Penyebab Infeksi saluran Kemih (ISK) Pasca Pemasangan Kateter di Rumah Sakit Haji Medan

No
Kategori
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Baik
3 orang
12%
2
Sedang
19 orang
76%
3
Buruk
3 orang
12%

Total
25 orang
100%

            Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang penyebab infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 19 orang (76%).
Tabel 3
Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Tanda dan Gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK) Pasca Pemasangan Kateter di Rumah Sakit Haji Medan

No
Kategori
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Baik
7 orang
28%
2
Sedang
15 orang
60%
3
Buruk
3 orang
12%

Total
25 orang
100%

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 15 orang (60%).

Tabel 4
Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Pencegahan / Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) Pasca Pemasangan Kateter di Rumah Sakit Haji Medan

No
Kategori
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Baik
4 orang
16%
2
Sedang
16 orang
64%
3
Buruk
5 orang
20%

Total
25 orang
100%

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) yaitu  sebanyak 16 orang (64%).

Tabel 5
Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK)
 Pasca Pemasangan Kateter di Rumah Sakit Haji Medan


No
Kategori
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Baik
7 orang
28%
2
Sedang
14 orang
56%
3
Buruk
4 orang
16%

Total
25 orang
100%

            Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 14 orang (56%).

4.2  Pembahasan
            Hasil penelitian yang dilakukan tentang pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter di Rumah sakit Haji MedanTahun 2010 dengan sampel sebanyak 25 responden, antara lain :
4.2.1 Distribusi Pengetahuan Perawat Tentang Penyebab Infeksi saluran Kemih           (ISK) Pasca Pemasangan Kateter.
            Setelah dilakukan penelitian mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang penyebab infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 19 orang (76%). Dari hasil penelitian, umur responden mayoritas antara 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%) merupakan salah satu faktor yang membuat responden mempunyai pengetahuan dengan sedang. Semakin meningkatnya kedewasaan maka semakin meningkat pula pengetahuannya, dimana rata – rata responden dapat menjawab pertanyaan tentang penyebab infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu dari Gram – Negatif seperti Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter, dan Pseudomonas. Bakteri lain juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) melalui jalan hematogen yaitu Brusela, Nokardia, Aktinomises, dan Mycobacterium Tuberculosea.
Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Baradero. M, dkk (2009) yang menyatakan infeksi saluran kemih (ISK) yaitu organisme seperti Escherichia coli, Klebsiella, Proteus, atau Pseudomonas yang berasal dari usus, kemudian masuk kedalam uretra dan naik kevesikaurinaria (kandung kemih) ke ureter dan membawa bakteri dari kandung kemih ke pelvis ginjal melalui ureter.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden sedang dapat dipengaruhi oleh umur dimana responden memiliki umur antara 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%). Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Mubarok (2009), yang menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang dan banyak pengalaman yang dilaluinya semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya, dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dengan hasil penelitian.
4.2.2 Distribusi Pengetahuan Perawat Tentang Tanda dan Gejala Infeksi             Saluran Kemih (ISK) Pasca Pemasangan Kateter.
            Setelah dilakukan penelitian mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 15 orang (60%). Pengetahuan responden dikategorikan sedang disebabkan oleh pendidikan, bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya, dimana rata – rata responden dapat menjawab tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu ditemukan adanya bakteri dalam urin (bakteri uria) menunjukkan adanya gejala (asimtomatik).
            Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Suharyanto. T, dan Madjid. A, (2009) yang menyatakan bahwa tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK)  bervariasi, dan gejala yang sering ditemukan adalah disuria, urgency, stranguria, tenesmus, Nokturia, dan Prostatimus.
            Peneliti dapat menyimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 15 orang (60%), menurut Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan hasil penelitian, dimana pendidikan responden Diploma III Keperawatan.
4.2.3 Distribusi Pengetahuan Perawat Tentang Pencegahan / Penanganan             Infeksi Saluran kemih (ISK) Pasca Pemasangan Kateter.
            Setelah dilakukan penelitian mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang yaitu sebanyak 16 orang (64%) tentang pencegahan / penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter, dari wawancara yang dilakukan terhadap responden menyatakan bahwa dokter Spesialis Urologi memberikan  informasi melalui breefing tentang pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 15 orang (60%) yang didapatkan responden untuk memperoleh pengetahuan, maka semakin banyak seseorang memperoleh informasi maka semakin baik pengetahuannya, dimana rata – rata responden dapat menjawab pertanyaan tentang pencegahan / penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) yaitu kateterisasi perkemihan dilakukan hanya apabila sangat diperlukan dan dilepas secepat mungkin, dan hal yang paling penting untuk mencegahnya adalah dengan menjaga kebersihan diri bila setelah buang air besar dan air kecil, dan dengan pemberian antibiotik seperti ampisilin, trimetoprin – sulfa metoksasol, kloramfenikol, sefotaksim, amikasin.

            Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Suharyanto. T, dan Madjid. A (2009) menyatakan bahwa pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter bertujuan untuk membebaskan saluran kemih dari bakteri dan mencegah atau mengendalikan infeksi berulang. Dalam pendekatan klinis pengobatan infeksi saluran kemih (ISK) pemilihan antibiotik adalah penting.
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang tentang pencegahan / penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 16 orang (64%), menurut Notoadmodjo (2002) menyatakan bahwa salah satu cara memperoleh pengetahuan yaitu dari informasi, semakin banyak seseorang memperoleh informasi dari berbagai sumber maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan hasil penelitian.
4.2.4   Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK)               Pasca Pemasangan Kateter.
            Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa mayoritas responden mempunyai pengetahuan sedang yaitu sebanyak 14 orang (56%).
Dari hal – hal yang mempengaruhi pengetahuan, dilihat dari faktor umur responden mayoritas antara 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%). Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Mubarok (2009), yang menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang dan banyak pengalaman yang dilaluinya maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan umur responden antara 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (83%).
            Berdasarkan faktor diatas menurut peneliti pendidikan responden mayoritas Diploma III Keperawatan, dapat menambah pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter. Menurut Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Hal ini sesuai dengan pendidikan responden yaitu Diploma III Keperawatan.
            Mayoritas sumber informasi responden adalah melalui breefing yaitu sebanyak 15 orang (60%). Menurut Notoadmodjo (2002) menyatakan bahwa salah satu cara memperoleh pengetahuan yaitu dari informasi, semakin banyak seseorang memperoleh informasi dari berbagai sumber maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dangan sumber informasi yang didapatkan responden melalui breefing yaitu sebanyak 15 orang (60%).
            Walaupun pengetahuan responden memiliki pengetahuan sedang juga dipengaruhi oleh pengalaman kerja responden mayoritas 5 tahun yaitu sebanyak 8 orang (32%), yang mana juga berpengaruh terhadap pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yaitu sebanyak 14 orang (56%). Menurut Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa semakin banyak pengalaman kerja seseorang itu maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan pengalaman kerja responden mayoritas 5 tahun yaitu sebanyak 8 orang (32%).

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Setelah dilakukan penelitian dari tanggal 19 Juni sampai dengan 22 Juni terhadap 25 responden dengan menggunakan instrumen kuisioner yang berisi sebanyak 30 pertanyaan mengenai pengetahuan perawat tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter yang terdiri dari penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan / penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter masing – masing sebanyak 10 pertanyaan, yang kemudian disajikan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a.       Data demografi didapatkan mayoritas umur antara 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%), pendidikan responden Diploma III Keperawatan, sumber informasi didapatkan responden melalui breefing yaitu sebanyak 15 orang (60%), dan pengalaman kerja responden 5 tahun yaitu sebanyak 8 orang (32%).
b.      Pengetahuan responden tentang penyebab infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter mayoritas sedang yaitu sebanyak  19 orang (76%).
c.       Pengetahuan responden tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter mayoritas sedang yaitu sebanyak 15 orang (60%).
d.      Pengetahuan responden tentang pencegahan / penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter mayoritas sedang yaitu sebanyak 16 orang (64%).
e.       Pengetahuan responden tentang infeksi saluran kemih (ISK) pasca pemasangan kateter mayoritas sedang yaitu sebanyak 14 orang (56%).

5.2 Saran
a.       Bagi Rumah Sakit Haji Medan
Di harapkan kepada Pimpinan Rumah Sakit Haji Medan untuk lebih sering mengadakan pelatihan dan seminar bagi perawat khususnya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Infeksi saluran Kemih (ISK) pasca pemasangan kateter untuk lebih meningkatkan ilmu pengetahuan serta wawasan perawat agar dapat memberikan pelayanan kepada pasien yang sesuai dengan SOP (Standart Operasional Prosedur) sehingga mutu dan kualitas pelayanan lebih baik lagi dan tidak terjadi infeksi setelah pemasangan kateter.
b.      Bagi Institusi Pendidikan
Di harapkan kepada STIKes Rumah Sakit Haji Medan agar lebih melengkapi sarana dan prasarana yang telah ada untuk proses belajar – mengajar khususnya yang berkaitan dengan mata kuliah sistem perkemihan misalnya phantom sistem perkemihan dan buku – buku tentang sistem perkemihan. Serta kepada seluruh staf pengajar STIKes Rumah Sakit Haji Medan untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan dalam proses pembelajaran.
c.       Bagi Peneliti Selanjutnya
Di harapkan kepada peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian ini di tempat lain dengan jumlah sampel yang lebih banyak, variabel lebih luas, dan metode penelitian yang lain agar hasil yang didapatkan lebih baik dan memuaskan.
           
           






                                   
















DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. (2002). Dasar – Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.

Baradero, Mary, dkk. (2008). Klien Gangguan Ginjal. Jakarta : EGC.

Hidayat. A. Aziz. Alimul, dan Uliyah, M. (2005). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta             : EGC.

Hidayat, A, Aziz Alimul. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik           Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.

Kusmiyati, Yuni. (2007). Keterampilan Dasar Praktek Klinik Kebidanan. Yogyakarta          : Fitramaya.

Mansjoer, Arif, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.

Notoatmojo, Soekidjo. (2002). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rieneka              Cipta.

Notoatmojo, Soekidjo. (2003). Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta : PT.      Rieneka Cipta.

O’calloghan, C. A. (2009). At a Glance Sistem Ginjal. Jakarta : Erlangga.

Sudjana. (2005). Metode Statistika. Bandung : Tarsito 

Suharyanto, T, dan Madjid, A. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan     Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : TIM.

Tessy, Agus. Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :    Balai Penerbit FKUI.

Wasis. (2002). Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta : EGC.

_______(2005). Jumlah Penderita Infeksi Saluran Kemih, http://www.blogspot.Com.    Diambil tanggal 20 November 2009. Jam 16.00 WIB.





_______(2009). Infeksi Saluran Kemih, http://www.wordpres.Com. Diambil tanggal     28 Novemberl 2009. Jam 19.30 WIB.

_______(2008). Infeksi Saluran Kemih Pasca Kateterisasi Di Sumut,    http://www.librari.usu.ac.id. Diambil tanggal 28 November 2009. Jam 19.00     WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar